Oleh Dr. Nur Rohman, SE., M.Sos.I., (Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Tengah)
PADA hari ini, kita semua berkumpul untuk merayakan salah satu hari besar Islam: Iedul Adha, hari yang penuh makna, hari yang tidak hanya dipenuhi gema takbir dan ibadah qurban, tetapi juga sarat dengan pelajaran pengorbanan dan ketaatan sejati.
Pada hari yang agung ini, kita memperingati peristiwa monumental Idul Adha, yang tidak lain adalah peringatan kisah pengorbanan terbesar dalam sejarah umat manusia, yakni kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Allah SWT telah mengabadikan kisah luar biasa tentang Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail dalam Al-Qur’an. Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan meninggalkan istri dan anaknya di lembah tandus Makkah, beliau taat tanpa ragu, padahal itu sangat menyakitkan.
Ketika diperintahkan untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai, Nabi Ibrahim tetap teguh karena cintanya kepada Allah lebih besar dari segalanya.
Bayangkanlah, seorang ayah yang telah lama merindukan keturunan, baru dikaruniai anak setelah puluhan tahun doa yang panjang, namun kemudian diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan anak dan istri di padang tandus, dan puncaknya, diperintahkan menyembelih putra tercintanya sendiri.
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail menjawab: Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Pengorbanan ini bukan sekadar bentuk ketaatan. Ini adalah puncak dari cinta hakiki kepada Allah, yang menuntut pengorbanan atas segala yang dicintai selain-Nya.
“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, Kami pun memanggilnya: ‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya begitulah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ash-Shaffat: 103–105)
Sekarang mari kita bertanya dalam hati: Apa pengorbanan kita hari ini? Apakah kita siap meninggalkan sedikit saja kenikmatan duniawi dan hura-hura demi cinta kepada Allah?
Dulu Nabi Ibrahim meninggalkan keluarganya di gurun. Hari ini, apakah kita bisa meninggalkan main hape berjam-jam yang tak bermanfaat? Dulu beliau hampir menyembelih putra yang dicintainya. Hari ini, apakah kita siap mengorbankan kecintaan kita pada gadget, medsos, atau hobi konsumtif yang melalaikan?
Banyak dari kita menghabiskan waktu untuk scrolling media sosial tanpa tujuan, memburu like dan ketenaran, flexing dan pamer gaya hidup, namun melupakan zikir, membaca Qur’an, atau sekadar menyapa orang tua.
Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail bukan sekadar sejarah. Itu adalah pesan abadi, bahwa iman dan cinta kepada Allah menuntut bukti. Bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan tindakan nyata: berani melepas yang kita sukai demi yang lebih Allah cintai.
Sebagaimana Nabi Ibrahim rela mengorbankan anak yang dicintainya demi Allah, kita pun harus rela mengorbankan apa yang melalaikan cinta kita kepada Allah. Mungkin itu adalah ponsel, media sosial, hobi yang berlebihan, atau waktu yang terbuang sia-sia.
Sekarang mari kita bercermin. Di masa kini, Allah tidak lagi memerintahkan kita menyembelih anak. Namun pertanyaannya: Apa yang telah kita korbankan untuk Allah?
Apakah kita siap meninggalkan sebagian kesenangan duniawi yang melenakan? Apakah kita siap mengorbankan waktu main hape berjam-jam untuk diganti dengan tilawah, zikir, dan ilmu?
Apakah kita siap menyisihkan sebagian pengeluaran konsumtif kita untuk sedekah dan kepedulian sosial? Idul Adha adalah momentum untuk menghidupkan kembali semangat pengorbanan, tapi dalam konteks zaman kita.
“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kerabatmu, harta yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24)
Dari ayat tersebut, kita bisa menindaklanjuti dengan :
- Mengorbankan waktu dari ketergantungan gawai.
Banyak dari kita lebih memilih scroll media sosial daripada shalat tepat waktu. Padahal waktu adalah amanah.
“Dua nikmat yang sering dilalaikan oleh manusia: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
- Mengorbankan kebiasaan flexing dan pamer gaya hidup di media sosial.
Kita terjebak dalam budaya pencitraan dan memburu validasi manusia, bukan keridhaan Allah.
“Barang siapa yang melakukan suatu amal karena ingin dilihat manusia, maka Allah akan memperlihatkannya (aibnya di akhirat).” (HR. Muslim)
- Mengorbankan hobi belanja yang konsumtif. Banyak orang lebih tergoda mengikuti tren dan diskon daripada menyisihkan harta untuk sedekah. “Tidak akan berkurang harta karena sedekah.” (HR. Muslim)
- Mengorbankan ego untuk menolong sesama. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Iedul Adha mengajarkan bahwa pengorbanan bukanlah penderitaan, tetapi jalan menuju keagungan spiritual. Bahkan, yang dikorbankan Nabi Ibrahim bukan menjadi kehilangan, tetapi justru diganti dengan kemuliaan dan keberkahan yang abadi.
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 111)
Apa kita masih merasa berat hanya untuk mengurangi waktu main TikTok, berhenti membeli barang yang tidak perlu, atau menahan diri dari pamer di Instagram?
Jika Nabi Ibrahim rela mengorbankan anaknya demi Allah, kenapa kita tidak mampu mengorbankan hal-hal kecil demi cinta yang lebih besar kepada Allah?
Pengorbanan kita hari ini bisa dimulai dari mengurangi kecanduan belanja, lebih bijak dalam membelanjakan uang, serta memindahkan perhatian kita dari dunia maya ke dunia nyata — dunia kerja nyata, ibadah nyata, dan membantu sesama.
Mari kita perbarui cinta kita kepada Allah. Jadikan Idul Adha ini sebagai momen hijrah dari kesenangan sesaat menuju kebahagiaan abadi. Mari kita salurkan cinta bukan pada hal yang semu, tapi pada hal yang haq: mencintai Allah, Rasul-Nya, keluarga, dan amal kebaikan.
Semoga Allah menjadikan kita seperti Nabi Ibrahim: teguh dalam iman, kokoh dalam ketaatan, dan tulus dalam pengorbanan. Aamiin, ya Rabbal ‘Alamiin. (*)
