Radarlamteng.com, GUNUNGSUGIH – Buruknya pembangunan jalan Onderlagh di Kampung Gunungsari, Kecamatan Gunungsugih, Lampung Tengah (Lamteng) diduga tak sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan terkesan asal jadi.
Hal itu dapat terlihat dari teknis pemasangan batu yang mestinya berdiri tegak akan tetapi dipasang dengan cara terlentang dan tidak beraturan yang sudah dipastikan mengurangi volume material batu. Sehingga tidak menjamin kualitas pembangunan dapat bertahan lama bahkan jauh dari kata standar spesifikasi bangunan.
Parahnya lagi, pembangunan jalan onderlagh yang terletak di Dusun 1 kampung setempat pada tahap kedua tersebut kondisinya memprihatinkan. Dimana dalam hamparan batu yang di ketahui belum di slender (wals) tetapi sudah di hampar menggunakan media pasir itu sudah mengalami kerusakan yang cukup parah.
Diketahui, pembangunan jalan onderlagh dengan panjang 600 meter yang terbagi di 3 titik berbeda itu bersumber dari Dana Desa (DD) tahun 2023 yang diperkirakan menelan anggaran sebesar Rp. 160 juta rupiah lebih disinyalir menjadi sarat korupsi. Hal itu diperkuat dengan tidak adanya Papan Informasi Publik (PIP) sebagai bentuk transparansi terhadap warga.
“Yang jelas tak perlu kita bandingkan dengan pembangunan-pembangunan jalan seperti ini di kampung lain. Ini sudah nyata didepan mata. Dan yang membuat janggal, dengan anggaran sebesar itu, kok cuma digunakan untuk membangun onderlagh sepanjang 600 meter saja. Sedangkan kami tahu dengan pagu anggaran senilai ratusan juta itu pasti bisa lebih panjang dari yang ada,” ujar sumber yang enggan namanya tak disebutkan ini kepada radarlamteng.com, Minggu (5/11/2023).
Namun, lanjut sumber, sampai hari ini pembangunan jalan onderlagh belum juga di terealisasi oleh kakam sehingga membuat sejumlah warga menjadi sulit untuk melintas terutama saat akan beraktifitas ke sawah dikarenakan kondisi amparan batu sudah tidak tersusun rapih (acak-acalan).
“Sampai hari ini ada 2 titik pembangunan yang belum rampung bahkan belum bisa di lewati. Setiap ditanya kapan mau dirampungkan kata pak lurah maupun perangkatnya nunggu ada hujan. Lah, emangnya harus nunggu hujan baru di selesaikan,” tambahnya.
Ia berharap kepada dinas terkait agar dapat turun dan mengkroscek secara langsung hasil pembangunan yang menggunakan uang negara itu. Bahkan, ia juga berharap kedepan kualitas dalam setiap pembangunan dapat sesuai dengan spesifikasi kontruksi bangunan.
“Tentunya, saya berharap kepada instansi terkait khususnya bapak Bupati Lampung Tengah H. Musa Ahmad melalui instansi terkait agar segera mengkroscek secara langsung hasil pembangunan ini. Agar kedepan tidak ada lagi perangkat desa/kampung yang memanfaatkan momentum demi keuntungan pribadi,” harapnya.
Saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsAppnya, Kepala Kampung Gunungsari Kuliman tak merespon dan seakan mengabaikan permasalahan ini. Hingga berita ini diturunkan Kuliman pun belum memberikan keterangan terkait hal itu.(red/rid).
