Radarlamteng.com, KOTAGAJAH – Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) SMAN 1 Kotagajah, Lampung Tengah (Lamteng) menjadi ajang pembuktian akan hasil dari karya seni tari tetap bertengger di panggung bergengsi tingkat nasional.Berhasil Meraih Juara Harapan 3 pada FLS3N Dinas Pendidikan dan Menengah (Dikdasmen) 2025. Kreasi Seni Tari Ngawol yang ditampilkan mampu berjejer dengan peserta lainnya diseluruh Nusantara.
Kepala SMAN 1 Kotagajah R.Surya Damayanti,M.Pd mengapresiasi persembahan terbaik dari siswanya M.Yazid Al Rasyid Syamsi dan siswa Nandiva Rehan.S. Lomba Seni Tari menjadi satu potensi yang mampu terus melaju skala nasional hingga go internasional.
” Kami bangga anak- anak kami mampu terus atraksikan kreasi seni tari SMAN 1 Kotagajah dipanggung nasional dan internasional. Sekolah terus membangun regenerasi siswa dan siswi terbaik untuk berdedikasi dengan prestasi,” jelasnya.
Diharapkan dari lomba yang diikuti banyak pengalaman besar yang didapatkan dengan mempelajari hasil-hasil dari sekolah lain yang berprestasi sehingga menjadi motifasi dan inspirasi untuk meningkatkan prestasi lebih baik lagi.
FLS3N sendiri digelar di Institut Kesenian Jakarta pada 17-23 November 2025 lalu, dan didukung Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Hasil lomba mendapat uang pembinaan Rp 3 juta dan piagam perhargaan yang nantinya dapat dipergunakan untuk modal melanjutkan ke perguruan tinggi terbaik di Indonesia lewat jalur prestasi.
Sementara itu Nurcahya Surya Barunawati, S.Pd yang merupakan Pembina Tari SMAN 1 Kotagajah didampingi Luthfi Guntur Eka Putra,M.Sn Selalu Pelatih Tari menjabarkan, Tari Kreasi Ngawol yang ditampilkan memiliki deskripsi bagian tradisi dan sistem adat yang menandai transisi penting dalam kehidupan seorang anak laki-laki menuju kedewasaan.
“Ngawol sunatan/khitanan masyarakat Lampung adalah bentuk nyata dari bagaimana merefleksikan ritme kehidupan, yang pada makna transisi dan keterhubungan antar manusia dan nilainya budaya.Ngawol dalam masyarakat Lampung bukan hanya kegiatan budaya biasa, melainkan momentum hidup dari tradisi, nilai sosial, dan struktur adat yang mengakar kuat dalam keseharian masyarakat mempertahankan masa lalu dan masa kini dalam satu proses yang penuh makna simbolis, kebersamaan, dan penghormatan terhadap kehidupan,” urainya.
Setelah dikhitan, tambah ia anak diberikan doa-doa dengan harapan. Anak yang sudah dikhitan disebut sebagai pengantin sunat dan menggunakan kopiah emas kemudian diarak keliling kampung dengan tabuhan rebana dan silat (sci/rid)
