Radarlamteng.com, JAKARTA – Peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXIX Lemhanas RI tahun 2026 melakukan Studi Strategis Luar Negeri (SSLN) ke tiga negara. Jepang, Thailand, dan Malaysia, 6-10 Juni.
Tergabung dalam kelompok A, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kabupaten Lampung Tengah Dr. Nur Rohman, SE., M.Sos.I., yang menjadi salah satu peserta P4N LXIX, melakukan SSLN ke Negara Jepang.
Diketahui, SSLN merupakan bagian dalam program pendidikan kepemimpinan di Lemhannas RI yang bertujuan memberikan wawasan kepada para peserta mengenai praktik penyelenggaraan pemerintahan dan penerapan kebijakan publik melalui kunjungan langsung.
Selama di Jepang, para peserta P4N mengunjungi Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; institusi-institusi pendidikan; serta pusat pengembangan teknologi di Negeri Sakura.
Dalam kunjungannya ke Jepang, Nur Rohman mengaku mendapatkan pengalaman yang berharga tentang teknologi, integrasi, disiplin, dan sosial budaya.
“Mengikuti program SSLN di Jepang memberikan perspektif baru yang sangat mendalam mengenai integrasi teknologi canggih dan disiplin kerja tinggi. Saya menyaksikan langsung bagaimana inovasi, digitalisasi pelayanan publik, dan pelestarian nilai budaya dapat berjalan beriringan secara harmonis,” kata Nur Rohman, Sabtu (13/6).
Pengalaman ini, kata dia, memperluas cakrawala berfikirnya dalam merumuskan solusi strategis yang efisien dan aplikatif di tanah air.
Di bidang pendidikan, agenda kunjungan SSLN ke Negeri Matahari Terbit itu juga membuka mata terhadap pentingnya pembentukan karakter atau character building sejak usia dini.
“Di sana, sekolah tidak hanya berfokus pada nilai akademik, tetapi secara sistematis melatih kemandirian, tanggung jawab sosial, dan etika kerja melalui kebiasaan sehari-hari,” ujarnya.
“Integrasi antara kurikulum berbasis riset, pemanfaatan teknologi kelas dunia, dan penguatan nilai moral tradisional menciptakan ekosistem pendidikan yang tangguh untuk menghasilkan generasi masa depan yang kompetitif namun tetap berakar pada budaya,” katanya.
Menurutnya, pelajaran terbesar dari dunia pendidikan Jepang adalah bagaimana mereka memperlakukan sekolah sebagai miniatur masyarakat yang ideal.
“Saya sangat mengagumi budaya Souji (bersama-sama membersihkan sekolah) dan Kyoushouku (makan siang bersama). Di mana siswa belajar tentang kesetaraan, kerja sama, dan menghargai makanan tanpa memandang latar belakang. Pengalaman SSLN ini menginspirasi saya bahwa transformasi pendidikan sejati dimulai dari hal-hal kecil yang konsisten untuk membentuk kedisiplinan dan empati sejak dini. Tentu sistem ini sangat baik diterapkan di Indonesia, terutama di Lampung Tengah,” pungkasnya. (rid)
