Radarlamteng.com, BUMINABUNG – Petani singkong di Lampung Tengah menjerit. Gegaranya, adalah harga jual yang terus mengalami penurunan.
Ditambah beban operasional panen seperti ongkos angkut dan tenaga kerja yang cukup tinggi.
Seperti dikatakan Ali Syafii, petani singkong asal Kampung Buminabung Timur, Kecamatan Buminabung.
Ali yang baru saja memanen singkong dengan luasan lahan seperempat hektare (Ha) mengatakan saat ini harga singkong di lapak atau pabrik Rp1.150 per Kg.
Namun setelah dipotong timbangan pabrik atau lapak, lalu tenaga panen dan ongkos angkut, dia hanya menerima hasil bersih Rp650 per Kg.
Dengan harga saat ini, menurutnya, hanya untuk cukup untuk biaya tanam kembali.
Seperti yang ia rasakan, dalam seperempat lahan, dia mendapat hasil 4 ton.
“Artinya kita cuma dapat hasil Rp2,6 juta saja. Itu udah bersih. Kemudian untuk tanam kembali, mungkin tinggal sisa Rp1 juta saja. Kita dapat hasil segitu nunggunya 6 bulan,” katanya.
Keresahan petani singkong semakin lengkap dengan susahnya mendapat pupuk subsidi.
“Katanya pemerintah sudah tidak mengalokasikan lagi pupuk subsidi untuk tanaman singkong. Akhirnya kita siasati dengan pupuk kandang serta pupuk non subsidi,” jelasnya.
Aryanto, petani singkong lain di Kecamatan Rumbia juga berujar bahwa harga pupuk non subsidi di wilayahnya cukup mahal.
Lalu muncul banyak merk pupuk yang ditakutkan petani, pupuk tersebut ilegal.
“Banyak muncul pupuk dengan merk baru. Kami hanya petani kadang tidak tahu itu ilegal atau tidak,” katanya lagi.
Dia berharap pemerintah turun tangan soal harga jual singkong. “Ya minimal ada ambang batas harga minimum. Jadi lebih stabil,” paparnya.
Memang, diaukui dia, bahwa panen singkong seperti saat ini sedang berada di puncak. Itu karena akan adanya peralihan tanaman.
“Kalau musim seperti ini banyak petani yang memanen singkong untuk menanam padi di lahan yang dipanen itu,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, otomatis stok singkong sangat melimpah. Namun yang ia takutkan adalah, adanya permainan pabrik.
“Kami merasa pengusaha memanfaatkan situasi. Kalau benar demikian, mohon pemerintah turun tangan,” harapnya. (rid)
