Tertekan Pandemi Covid-19, Harga Jual Singkong Bertahan Rendah

Radarlamteng.com, BUMINABUNG – Pandemi Covid-19 turut mempengaruhi harga jual singkong. Sudah sekitar empat bulan harga singkong bertahan di level rendah, yakni di kisaran Rp800 per Kg.

Kondisi ini sangat dirasakan warga wilayah timur Lampung Tengah (Lamteng) yang mayoritas bertani singkong. Seperti halnya para petani di Kecamatan Buminabung.

“Harga di pabrik saat ini di kisaran Rp800 per Kg. Tapi itu harga kotor, belum lagi ada potongan di tingkat pabrik yang rata-rata 25 persen. Serta ongkos untuk panen,” kata Yanto, petani setempat, Senin (25/1/2021).

Idelanya, tambah Mulyadi, petani lainnya, adalah Rp1.200 per Kg. Menurut hitungan petani, dengan harga Rp800 per Kg, petani hanya mendapat uang bersih di kisaran Rp475 ribu per ton.

Sebagai gambaran, jika dalam 1 ton singkong dijual di pabrik kemudian terkena refaksi/potongan 25 persen, bobot bersihnya tinggal 750 Kg saja.

“Jika berat bersih dikalikan harga, dalam satu ton kita mendapat uang Rp600 ribu. Kemudian dipotong lagi biaya panen dan angkut mencapai Rp100 hingga Rp125 ribu per ton. Jadi kita terima bersih tidak sampai Rp500 ribu per tonnya,” jelas dia.

Sementara, Solihin salah satu pimpinan PT Florindo Makmur Buminabung saat dikonfirmasi terkait rendahnya harga singkong menjelaskan bahwa saat ini banyak perusahaan tapioka dalam tekanan pandemi.

Seperti halnya di perusahaan singkong terbesar di Kecamatan Buminanbung tersebut. “Perusahaan tertekan pandemi Covid-19,” kata Solihin.

Akibat pandemi, lanjut dia, perusahaan tidak maksimal dalam menjual produk hasil olahan singkong. “Gudang kita penuh terkendala dipemasarannya,” ujar dia.

Selanjutnya, musim penghujan juga mempengaruhi harga singkong. “Karena hujan terus menerus dapat mempengaruhi hasil produksi tapioka. Karena kadar patinya berkurang,” jelasnya. (rid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *