Radarlamteng.com, GUNUNGSUGIH – Hari Batik Nasional jatuh pada setiap tanggal 02 Oktober. Guna menanamkan rasa cinta budaya dari hasil karya anak negeri melalui batik siswa dan guru hingga staff tata usaha serta Kepala SMAN 1 Gunung Sugih, Lampung Tengah (Lamteng) melakulan karnaval batik. Kegiatan ini berlangsung pada Senin (03/10/2022) yang dimulai dari start sekolah setempat hingga menempuh rute area perkantoran Pemkab Lamteng dan finis disekolah kembali.
Karnaval Batik diikuti sekitar 617 siswa dari kelas X, XI dan XII serta 56 guru dan staff TU. Dengan mengenakan ragam pakaian batik, semangat siswa dan guru sepanjang karnaval dengan menyuarakan yel – yel dan lagu – lagu kebangsaan.
Kepala SMAN 1 Gunung Sugih Hasanudin,S.Pd mengapresiasi semangat siswa dan guru yang antusias memperingati hari batik nasional. Antusias semangat anak-anak kami sangat besar, sehingga karnaval berjalan meriah dan penuh suka cita.
” Diharapkan hari batik nasional ini akan mampu menamkan rasa cinta budaya daerah bangsa, dan tidak terpengaruh budaya asing yang tidak baik, kita memiliki salah satu ikon dari batik sebagai hasil kerajinan lokal yang sudah mendunia,” harapnya.
Disamping Karnaval Batik, SMAN 1 Gunung Sugih juga sekaligus melakukan peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Oktober dengan upacara bendera.
Hari Kesaktian Pancasila, lanjut Hasanudin menjadi momentum untuk mentauladani semangat pahlawan revolusi yang harus rela berkorban untuk bangsa,” harapnya.
Lidia Kartika kelas IX IPA 2 adalah salah satu siswi yang menggemari batik mengutarakan, batik saat ini makin banyak memiliki modifikasi keragaman model dan motifnya.
“Kita sekarang tidak terpaku pakaian batik hanya berbentuk kemeja, namun sudah banyak pilihan modifikasi gamis dari batik, juga dress dan atasan yang lebih menarik dan dikenakan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo hingga tokoh besar di negara kita.
Jadi sebagai generasi anak bangsa kita harus bisa meningkatkan kreatifitas kita untuk lebih memperkenalkan batik sebagai satu bagian budaya bangsa dimata dunia. Selain itu, jika bisa kita bisa melahirkan karya batik dari daerah sendiri misalkan kain Tapis Lampung yang juga akan memiliki nilai lebih diskala nasional dan internasional,” urainya.(sci/rid)
