- Advertisement -spot_img
Selasa, 25 Agustus 2026 | 11:57
BerandaProvinsiLamtengNur Rohman; Maulid Nabi Momentum Menghadirkan Kembali Keadilan dan Kepedulian Rasulullah

Nur Rohman; Maulid Nabi Momentum Menghadirkan Kembali Keadilan dan Kepedulian Rasulullah

- Advertisement -spot_img

Radarlamteng.com, PERINGATAN Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya tidak sekadar menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah.

Tetapi juga menjadi ruang untuk kembali bercermin pada keteladanan, akhlak, kepemimpinan, serta nilai-nilai kemanusiaan yang beliau wariskan kepada umat.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Lampung Tengah, Dr. Nur Rohman, SE., M.Sos.I., dalam refleksinya memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Selasa (25/08/2026).

Menurutnya, memperingati Maulid Nabi bukan hanya berarti menengok kembali perjalanan sejarah Rasulullah SAW, melainkan menghadirkan kembali kompas moral yang tetap relevan untuk kehidupan masyarakat di tengah perubahan zaman.

“Ketika kita membicarakan Rasulullah, kita sedang membicarakan seorang pemimpin yang melayani, sanubari yang penuh dengan empati, dan penggerak perubahan yang meletakkan keadilan sebagai fondasi utama penataan masyarakat,” ujar Nur Rohman.

Ia menilai, salah satu keteladanan penting Rasulullah SAW yang perlu terus dihidupkan adalah kepemimpinan yang mengayomi, bukan menguasai.

Rasulullah SAW, kata dia, membawa perubahan bukan dengan kekerasan, melainkan melalui kelembutan akhlak yang mampu menggerakkan hati. Beliau mendengarkan suara mereka yang tidak terdengar dan memberikan perhatian kepada kelompok yang terpinggirkan.

Dalam perspektif tersebut, seorang pemimpin bukanlah mereka yang sekadar berada di depan untuk mendapatkan penghormatan, tetapi mereka yang paling siap memikul tanggung jawab dan beban masyarakat.

“Pemimpin, dalam rekam jejak Nabi, adalah mereka yang paling depan dalam memikul beban rakyatnya dan yang paling belakang dalam menikmati fasilitasnya,” tegasnya.

Keadilan Sosial dan Semangat Rahmatan Lil ‘Alamin

Nur Rohman juga mengajak masyarakat menjadikan keadilan sosial sebagai salah satu pesan utama dalam memperingati Maulid Nabi.

Menurutnya, misi kerasulan Nabi Muhammad SAW tidak dapat dilepaskan dari semangat menghadirkan rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil ‘alamin.

Namun, rahmat tersebut akan sulit terwujud apabila tidak disertai dengan keadilan yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Karena itu, meneladani Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan memperbanyak selawat atau menggelar kegiatan seremonial.

Keteladanan tersebut harus diterjemahkan dalam sikap nyata, termasuk dalam memperjuangkan kesetaraan, memperhatikan kelompok yang lemah, serta mendorong mereka yang memiliki kekuatan untuk menjadi pelindung dan penguat bagi sesama.

“Rahmat ini tidak akan mewujud tanpa adanya keadilan yang dirasakan oleh semua, bukan oleh sebagian kelompok saja,” ungkapnya.

Merawat Persatuan di Tengah Keberagaman

Pesan Rasulullah SAW tentang persatuan juga dinilai sangat relevan dengan kehidupan bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial.

Nur Rohman mengajak masyarakat kembali mengingat Piagam Madinah sebagai salah satu contoh penting bagaimana Rasulullah SAW membangun kehidupan bersama melalui kesepakatan, penghormatan, dan kerja sama di tengah perbedaan.

Kata dia, Rasulullah SAW mampu merajut berbagai kelompok dalam satu ikatan sosial yang dilandasi sikap saling menghormati dan hidup berdampingan.

Semangat tersebut, menurutnya, harus terus dirawat dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh, terlebih menjadi sumber perpecahan.

“Di tengah keberagaman kita hari ini, pesan persatuan dan kolaborasi ini menjadi semakin relevan. Kita harus terus merawat tenun kebangsaan kita agar tidak robek oleh ego dan kepentingan sesaat,” katanya.

Integritas dan Amanah dalam Kehidupan

Selain kepemimpinan, keadilan, dan persatuan, Nur Rohman menekankan pentingnya integritas sebagai nilai yang harus terus diteladani dari pribadi Rasulullah SAW.

Jauh sebelum menerima wahyu pertama, Rasulullah telah dikenal dengan gelar Al-Amin, sosok yang dapat dipercaya.

Gelar tersebut menunjukkan bahwa kejujuran dan amanah merupakan bagian yang melekat dalam kehidupan beliau.

Nilai itu, menurut Nur Rohman, sangat penting diterapkan oleh siapa pun, tanpa memandang profesi maupun kedudukan.

Baik sebagai aparatur pemerintahan, pendidik, pelajar, pelaku usaha, maupun anggota keluarga, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjaga amanah dan menjunjung tinggi kejujuran.

“Integritas adalah modal terbesar seorang manusia. Di sektor apa pun kita mengabdi hari ini, apakah di pemerintahan, ruang kelas, pasar, maupun rumah tangga, mari kita jaga amanah dengan tingkat kejujuran tertinggi,” tuturnya.

Maulid Nabi Harus Melahirkan Perubahan

Lebih jauh, Nur Rohman mengingatkan agar peringatan Maulid Nabi tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

Lantunan selawat dan berbagai rangkaian peringatan hendaknya menjadi pintu masuk untuk melakukan perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, esensi Maulid Nabi justru terletak pada sejauh mana umat mampu membawa keteladanan Rasulullah SAW ke dalam tindakan nyata.

“Peringatan Maulid Nabi ini menjadi hampa jika hanya berhenti pada ceremonial atau lantunan selawat tanpa perubahan perilaku,” ujarnya.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai kesempatan memperbarui tekad dalam menghadirkan kebaikan di lingkungan masing-masing.

Semangat keteladanan Rasulullah SAW, kata dia, harus hadir dalam ruang-ruang publik, dalam kebijakan, dalam dunia pendidikan, dalam hubungan antarsesama, serta dalam setiap ikhtiar membangun kehidupan yang lebih baik dan berkeadilan.

“Seberapa dekat perilaku keseharian kita, kebijakan kita, dan interaksi sosial kita dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah?” kata Nur Rohman mengajak masyarakat melakukan refleksi.

Pada akhirnya, Maulid Nabi Muhammad SAW diharapkan tidak hanya menjadi peringatan tahunan, tetapi menjadi momentum untuk menghadirkan kembali nilai-nilai kenabian dalam kehidupan nyata: kepedulian kepada sesama, keadilan, persatuan, kejujuran, amanah, dan kepemimpinan yang mengayomi.

“Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan, menjernihkan hati kita, dan membimbing kita semua untuk menjadi pribadi-pribadi yang membawa manfaat bagi sesama,” pungkasnya. (rls/rid)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here