Radarlamteng.com, GUNUNGSUGIH — Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) AR Rahhman Roundhotul Ilmi, Kampung Terbanggi Agung, Kecamatan Gunungsugih, Lampung Tengah (Lamteng), Iqbal Mufadil angkat bicara terkait dugaan keracunan yang dialami murid SD Negeri 2 Gunungsari usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (23/9/2026).
Dengan didampingi Penasehat Hukum (PH) Didik Sumaryoto, SH., MH., Iqbal Mufadil menjelaskan bahwa sejumlah murid yang mengalami mual, pusing hingga sakit perut tersebut bukan akibat keracunan dari menu MBG, melainkan kondisi dan daya tahan tubuh para murid yang sedang menurun.
Menurut Iqbal, berdasarkan pemeriksaan Dinas Kesehatan (Dinkes) Lamteng melalui sampel yang dilakukan, ditemukan adanya bakteri yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi sebelum para murid menyantap menu MBG.
“Setelah dilakukan pemeriksaan oleh Dinkes, terindikasi adanya bakteri yang terkandung dalam makanan sebelum mengonsumsi MBG. Memang dalam kondisi itu anak-anak juga kurang fit karena faktor cuaca,” ujarnya, Kamis (24/9/2026).
“Jadi, berdasarkan hasil pemeriksaan langsung dari Dinkes yang juga termasuk dalam satgas, akan diterbitkan surat hasil pemeriksaan pada esok hari,” ungkapnya.
Selain itu, pihaknya juga telah melakukan kunjungan ke rumah para murid yang diduga mengalami keracunan untuk memastikan kondisi kesehatan mereka.
“Alhamdulillah, saat kami kunjungi kondisi dan keadaan anak-anak sudah mulai membaik. Hari ini seharusnya anak-anak tersebut sudah bisa masuk sekolah, akan tetapi dari pihak sekolah memberikan waktu observasi selama empat hari,” imbuhnya.
Bahkan, pihaknya menepis adanya intervensi terhadap para wali murid yang dilakukan pihak SPPG agar tidak menceritakan atau membocorkan peristiwa yang terjadi kepada warga maupun masyarakat luar.
“Terkait intervensi itu kami pastikan tidak ada. Bahkan, kami sempat menawarkan kepada sekolah, guru maupun wali murid, jika mau menolak paket MBG itu menjadi hak mereka. Akan tetapi, saya harus menjalankan prosedur dengan pernyataan tertulis untuk dilanjutkan ke pusat. Bisa dikroscek, dari 15 sekolah saya tidak pernah tidak menerima saran, masukan maupun evaluasi dari sekolah maupun kader,” jelasnya.
Iqbal juga menambahkan, sebagai bentuk pertanggungjawaban, pihaknya akan memberikan kompensasi terhadap anak-anak yang diduga mengalami keracunan dengan menanggung pengobatan hingga mereka dinyatakan sembuh total.
“Sebagai bentuk empati kami, maka kami akan memberikan kompensasi dengan melakukan pengobatan terhadap anak-anak sampai sembuh total, bukan berupa uang. Biaya yang kami gunakan nantinya pun bukan bersumber dari pagu anggaran, namun dari mitra dengan menggunakan dana pribadi kami,” pungkasnya. (ndo/rid)




