Radarlamteng.com, TERBANGGIBESAR – Belum usai soal kelangkaan minyak goreng yang dikeluhkan ibu rumah tangga. Kini, persoalan kelangkaan bahan bakar jenis Bio solar yang beberapa pekan ini mulai dikeluhkan sopir truk.
Seperti yang terpantau di dua SPBU di wilayah Kecamatan Terbanggibesar. Menurut Subasiyono Security SPBU 08 Terbanggibesar, pasokan solar perhari di SPBU dijatah 16 ribu liter.
” Dalam satu pekan selama tiga hari pihak SPBU menerima 16 ribu liter dan sisanya 8 ribu liter, itupun hanya hitungan jam saja solar ludes,” jelasnya.
Ia mengatakan, antrian panjang truk ini disebabkan kosongnya beberapa SPBU disepanjang lintas sumatera hingga Bakauheuni.
“Ya rata-rata yang mengantri disini mereka tidak kebagian solar setelah turun dari Bakauheuni maupun dari arah sebaliknya, para sopir mengaku Pertamina yang mereka lewati sepanjang jalan mengalami kekosongan Bio solar,” tambahnya.
Masih dikatakannya, kalau SPBU disini sudah terpasang alat deteksi yang terhubung dengan Pertamina pusat, sehingga tidak bisa bermain-main baik dalam pengisian maupun praktik kecurangan lainnya.
“Terdapat alat yang dipasang dari Pertamina pusat serta CCTV disetiap pompa mesin. Hal itu untuk mengetahui stok bahan bakar yang terdapat di SPBU. Tak hanya itu, pengisian disini juga menggunakan nomor handphone (HP) dan plat mobil, untuk pendaftaran, dengan tujuan untuk mengawasi pengeluaran minyak dan mobil yang ngecor minyak,” ujarnya lagi.
Sementara itu, irwan salah satu sopir truk membenarkan kekosongan bahan bakar jenis Bio solar disepanjang SPBU yang ia lewati dari Bakauheuni.
“Terpaksa mengantri disini, mau bagaimana lagi sudah beberapa SPBU yang dilewati kosong semua. Sementara jika harus mengisi dexlite atau Pertamina Dex harga nya sangat mahal,” pungkasnya
Untuk diketahui, harga bahan bakar dexlite Rp 13.250 perliter dan Pertamina dex Rp 14.000 perliter berbeda jauh dengan harga bio solar yang hanya Rp 5.150 perliter. (cw25)
