KBM Tatap Muka Tidak Wajib, Tiga Kecamatan Jadi Perhatian Khusus Disdikbud Lamteng

Radarlamteng.com, GUNUNGSUGIH – Tiga kecamatan menjadi perhatian khusus Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lampung Tengah (Lamteng) dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka yang akan dimulai awal semester genap pada Januari 2021 mendatang.

Yakni Kecamatan Terbanggibesar, Waypengubuan dan Terusannunyai. Adanya perhatian khusus karena tiga kecamatan itu tercatat memiliki angka kasus Covid-19 yang cukup tinggi, berdasarkan data di Pemkab Lamteng.

Kabid Pendidikan Dasar Disdikbud Lamteng Dr. Hi. Nur Rohman, SE., M.Sos.I., mengatakan bahwa Pemkab Lamteng mengambil kebijakan untuk melakukan KBM tatap muka di tengah pandemi virus corona.

Kebijakan diambil setelah adanya surat keputusan bersama empat menteri yang intinya memberi kewenangan penuh dalam menentukan izin pembelajaran tatap muka kepada pemerintah daerah.

Meski demikian, kata Nur Rohman, KBM tatap muka tidak diwajibkan namun diperbolehkan. Sehingga, jika dalam suatu wilayah kecamatan yang memiliki catatan kasus Covid-19 tinggi termasuk risiko penyebarannya, diperbolehkan tetap pada pembelajaran daring. “Intinya KBM tatap muka tidak diwajibkan,” ujar Nur Rohman mendampingi Kadisdikbud Lamteng Syarif Kusen, Minggu (20/12/2020).

Disdikbud, kata dia, juga memberi kelonggaran di kecamatan lainnya jika memang tidak mendapat izin dari unsur pendidikan terkait. Seperti izin dari wali murid.

“Jika ada orang tua/wali siswa keberatan dengan tatap muka maka sekolah tidak boleh memaksa dan tetap memfasilitasi pembelajaran secara daring bagi siswa tersebut,” jelasnya.

Meski pelaksanaan KBM tatap muka masih akan dimulai usai libur akhir tahun ini, pihaknya kembali mengingatkan agar sekolah betul-betul mempersiapkan fasilitas dalam mematuhi protokol kesehatan (prokes) secara ketat sesuai dengan panduan yang diberikan oleh pemerintah.

Adapun beberapa panduan tersebut yakni menjaga jarak meja belajar di dalam kelas minimal 1,5 meter. Lalu memperhatikan jumlah maksimal peserta didik per ruang kelas.

“Untuk PAUD 5 orang dari standar 15 peserta didik. Kemudian pendidikan dasar dan menengah hanya 18 siswa dari standar 36 peserta didik, serta SLB 5 orang dari standar 8 peserta didik,” jelasnya.

Selanjutnya, dilakukan sistem bergiliran rombongan belajar (shifting) yang ditentukan oleh masing-masing satuan pendidikan.

Kemudian baik peserta didik maupun guru wajib menggunakan masker standar. Lalu mewajibkan cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer serta sebisa mungkin tidak melakukan kontak fisik antar sesama. (rid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *