Radarlamteng.com, GUNUNGSUGIH – Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Unit Layanan Pengadaan (ULP) Lampung Tengah disambangi salah seorang rekanan, Habibi Agung Senin (16/3/2020).
Kedatangan Habibi Agung untuk berdiskusi terkait proses lelang di Lamteng yang sebentar lagi dibuka agar berjalan baik dan transparan sehingga tidak timbul kegaduhan jelang Pilkada 2020.
“Saya baru menyambangi ULP Lamteng. Saya berdiskusi terkait proses lelang proyek di Lamteng agar berjalan baik sesuai undang-undang jasa konstruksi dan on the track. Saya juga sampaikan terkait proses lelang tahun lalu yang tidak berjalan baik sehingga menimbulkan kegaduhan,” katanya yang diterima Kabag ULP Iswantoro.
Habibi yang juga sebagai ketua MPC Pemuda Pancasila Lampung Tengah ini mengaku hampir 20 tahun menjadi rekanan ini menyatakan sudah banyak tahu dinamika proses lelang di Lamteng. “Saya cukup banyak tahu proses lelang di Lamteng seperti apa. Beberapa tahun ini, saya tak terlibat langsung tapi memantau buruknya proses lelang yang terjadi. Saya bicara berdasarkan data dan melihat proses yang sudah terjadi ke belakang. Jangan sampailah proses lelang yang buruk terulang. Apalagi ini mau Pilkada Lamteng, jangan sampai timbul kegaduhan. Jangan sampai Lamteng jadi tidak kondusif,” ungkapnya yang juga Sebagai Ketua KNPI Lampung Tengah sekaligus pengurus pusat.
Yang menyebabkan kegaduhan, kata dia, adanya pengondisian-pengondisian dan sewa jasa hacker. Itu, kata Habibi, jangan sampai terulang lagi. “Main atur atau pengondisian seenaknya. Bahkan sewa jasa hacker. Alasan klasik server down. Jangan sampai terulang. Betul-betul dijalankanlah proses lelangnya dalam waktu dekat ini dengan baik sesuai aturan. Lakukan secara terbuka dan transparan. Khawatirnya jika proses tidak berjalan dengan baik akan menimbulkan kegaduhan. Secara profesional-lah, rekanan lokal juga sudah melek teknologi. Mereka sudah siap ikut lelang,” imbuh mantan Ketua Umum HIPMI Lampung Tengah, yang saat ini menjabat Ketua I HIPMI Provinsi Lampung.
Jika ada pihak yang merasa dirugikan dengan statementnya, Habibi, mempersilakan melaporkan. “Kalau ada yang merasa dirugikan dengan statemen saya, silakan laporkan. Saya siap buka data semuanya. Mana yang benar, saya atau mereka. Tapi, bukan itu yang saya cari golnya. Saya hanya ingin proses lelang berjalan dengan baik. Itu harapan saya. Saya tidak mencoba intervensi, ayolah sebagai penyelenggara laksanakan lelang dengan baik. Selaku penyedia jalankan sesuai tupoksinya dengan baik. Pada 2019 yang lelang ditarik di Polinela sudah jelas menggunakan jasa hackers. Ada 41 paket dengan anggaran sekitar Rp67,5 miliar. Tahun ini belum tahu. Harapan saya jangan terulang lagi,” ungkapnya. (cw29/rid)
