RSUD DSR: Penanganan Pasien Sesuai Prosedur

RADARLAMTENG.COM, GUNUNGSUGIH – Rumah Sakit Umum Daerah Demang Sepulau Raya (RSUD DSR) Lampung Tengah, Senin (6/8), a menggelar konferensi pers berkaitan dengan meninggalnya pasien hamil pasca operasi caesar pada 31 Juli 2018.

Pertemuan dengan sejumlah pewarta berita itu dihadiri Direktur RSUD DSR Lampung Tengah dr. Otniel Sriwidiatmoko, Ketua Kode Etik RSUD DSR dr. Taufiq, Sp.A., Ketua IDI Lampung Tengah dr. Josi Harnos, dr. Vony, Sp.OG., serta sejumlah pejabat RSUD DSR.

Kepada awak media, dr. Otniel Sriwidiatmoko menyampaikan ucapan turut berdukacita atas meninggalnya Ratna binti Sahri asal Komeringagung, Kecamatan Gunungsugih, Lampung Tengah (Lamteng). Dikatakan Otniel, bahwa pihak rumah sakit telah berupaya maksimal memberikan pelayanan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan rumah sakit.

Menurut penjelasan dr. Vony, Sp.OG selaku dokter spesialis kandungan, pasien Ratna datang ke UGD RSUD DSR pada 29 Juli 2018, pukul 10.15 WIB. Saat datang ke rumah sakit pasien mengeluhkan sakit di kepala dan kondisinya sedang hamil delapan bulan. Diketahui, pasien mengandung anak yang keempat.

“Saat dibawa ke rumah sakit kondisi pasien sangat lemah dan tensi darah tinggi mencapai 230/160. Kemudian setelah diobservasi selama 3,5 jam di UGD, pasien sudah stabil dan dipindah ke ruang perawatan kebidanan.
Sudah kita lakukan pemeriksaan laboratorium dan diagnosis pre-eklampsia berat,” jelas Vony.

Penanganan terhadap pasien tersebut yakni dengan memantau tekanan darah dan menurunkan tekanan darah. Kepada pasien diberikan obat anti hipertensi dan anti kejang. Kondisi kesehatan pasien berpengaruh terhadap bayi yang ada dalam kandungan. Karena pertumbuhan bayi tidak baik dan air ketuban sangat sedikit sehingga diputuskan untuk menyelamatkan pasien dan bayi dilakukan operasi caesar.

Rencana operasi caesar telah disampaikan dokter spesialis kandungan kepada pasien dan keluarga pasien setelah paru-paru bayi dinyatakan matang meski usia kehamilan baru memasuki sekitar 33 minggu.

Akhirnya, pada 31 Juli 2018 dilakukan operasi caesar setelah meminta persetujuan dari pasien dan keluarganya. “Operasi caesar hanya berlangsung satu jam. Dan pasca operasi pasien sadar dan bayi terselamatkan meski air ketuban sudah sangat sedikit. Berat bayi 1.500 gram,” kata Vony.

Kemudian delapan jam pasca operasi, pasien mengalami indikasi pendarahan dan telah dilakukan tindakan penyelamatan. Termasuk dengan memasang infus dua jalur dan oksigen tapi penyelematan tidak berhasil dan akhirnya pasien dinyatakan meninggal dunia.

“Kami telah melakukan semua sesuai prosedur rumah sakit. Kondisi pasien saat dibawa memang telah berisiko karena memiliki riwayat hipertensi yang cukup akut. Upaya maksimal telah kami lakukan untuk menolong pasien,” katanya.(jar)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *