Radarlamteng.com, GUNUNGSUGIH – Pelestarian bahasa Lampung, penguatan olahraga tradisional, dan pengembangan seni budaya menjadi agenda utama Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Kabupaten Lampung Tengah tahun 2206 yang gelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pada hari keempat, Senin (26/10/2026).
Berlangsung di Sesat Agung Nuwo Balak, Gunungsugih, kegiatan ini melibatkan pelajar melalui berbagai perlombaan dan penampilan seni yang bertujuan menanamkan kecintaan terhadap kebudayaan daerah sejak dini.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Tengah, Dr. Nur Rohman, S.E., M.Sos.I., melalui Kabid Kebudayaan Linggar Nunik Kiswari, S.Sn., M.M., mengatakan bahwa PKD merupakan salah satu upaya untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.
“Melalui kegiatan PKD ini, kami ingin memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan mengembangkan kebudayaan daerah. Perlombaan yang digelar bukan sekadar ajang untuk meraih prestasi, tetapi juga menjadi sarana edukasi agar anak-anak semakin mencintai bahasa, seni, dan tradisi budaya Lampung,” ujarnya.
Pada hari keempat, sejumlah kegiatan penampilan seni dan perlombaan digelar dengan melibatkan peserta dari jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
Dalam agenda penampilan seni, Tari Nawit Hanggumku dan Tari Gambyong menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan seni tari kepada masyarakat. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan apresiasi terhadap seni pertunjukan, mengembangkan kreativitas, serta mendorong generasi muda untuk ikut menjaga kelestarian seni tari.
Sementara itu, lomba olahraga tradisional egrang bambu tingkat SMP bertujuan memperkenalkan permainan rakyat yang sarat nilai kebersamaan. Selain melatih keseimbangan dan koordinasi tubuh, perlombaan ini juga menanamkan sportivitas, ketekunan, dan semangat pantang menyerah.
Ada pula lomba pidato bahasa Lampung tingkat SMP. Kegiatan ini menjadi wadah bagi pelajar untuk melatih kemampuan berbicara di depan umum menggunakan bahasa daerah, meningkatkan rasa percaya diri, serta menumbuhkan kebanggaan terhadap bahasa Lampung sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat.
Berikutnya, lomba mendongeng atau ngedunging bahasa Lampung tingkat SD bertujuan melestarikan tradisi lisan dan mengenalkan cerita rakyat kepada anak-anak sejak dini. Melalui kegiatan ini, peserta dapat mengembangkan keterampilan bercerita, memperkaya kosakata bahasa Lampung, serta mengenal nilai moral dan kearifan lokal yang terkandung dalam cerita.
Adapun lomba membaca puisi bahasa Lampung tingkat SD diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berekspresi melalui sastra daerah. Peserta dilatih menghayati isi puisi, menyampaikan pesan dengan baik, dan membangun keberanian tampil di hadapan publik.
Selain perlombaan, terdapat pula penampilan olahraga tradisional egrang batok yang bertujuan mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda. Permainan ini mengasah keseimbangan, ketangkasan, dan konsentrasi sekaligus memperkenalkan bentuk hiburan rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.
Linggar menambahkan, keterlibatan pelajar dalam berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari proses pewarisan kebudayaan. Menurutnya, pengenalan budaya melalui praktik langsung dapat membantu generasi muda memahami dan menghargai kekayaan tradisi daerah.
“Kami berharap anak-anak tidak hanya mengenal budaya Lampung melalui cerita atau pelajaran di sekolah, tetapi juga terlibat langsung dalam kegiatan kebudayaan. Dengan begitu, tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” tambahnya.
Selain penampilan seni dan perlombaan, PKD Lampung Tengah 2026 juga menghadirkan pameran kuliner tradisional serta batik dan kriya.
Pameran kuliner tradisional bertujuan memperkenalkan kekayaan cita rasa daerah sekaligus menjaga keberadaan resep dan tradisi makanan lokal. Sementara itu, pameran batik dan kriya menjadi sarana untuk mengapresiasi kreativitas perajin, memperkenalkan produk budaya lokal, serta mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis kebudayaan.
“Pelestarian kebudayaan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan sekolah, keluarga, komunitas, dan seluruh lapisan masyarakat agar bahasa, seni, serta tradisi Lampung tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang,” pungkasnya. (rid)




