drh. Ketut Suwendra Desak Kementan Ambil Langkah Konkret Stabilkan Harga Singkong

Radarlamteng.com, JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian didesak segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga singkong di Provinsi Lampung.

Hal ini ditegaskan Anggota Komisi IV DPR RI, drh. I Ketut Suwendra, M.M.

Dia menilai harga singkong akhir-akhir ini merugikan para petani. Ketimpangan harga yang terjadi di tingkat petani telah melemahkan semangat produksi serta membahayakan keberlangsungan sektor pertanian pangan lokal.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan ini mengatakan singkong merupakan salah satu komoditas strategis yang banyak dibudidayakan petani di Lampung.

Sayangnya, fluktuasi harga yang tidak menentu dalam beberapa bulan terakhir membuat para petani berada pada posisi yang dirugikan.

“Saya kira harga jual singkong yang masih anjlok drastis di bawah biaya produksi dan ini telah menyebabkan kerugian besar dan ancaman krisis ekonomi mikro di wilayah pedesaan yang ada di provinsi kita yaitu Lampung,” kata I Ketut.

Ketut menilai, peran aktif Kementerian Pertanian sangat dibutuhkan untuk menjawab keresahan petani. Ia meminta pemerintah segera melakukan stabilisasi harga, yakni dengan menentukan harga dasar atau harga acuan minimum yang wajib dipatuhi oleh pelaku industri pengolahan dan tengkulak.

“Kami mendesak Kementerian Pertanian agar turun tangan secara langsung. Pemerintah harus hadir dalam melindungi petani dari praktik harga yang tidak manusiawi. Jangan biarkan petani terus menjadi korban sistem pasar yang timpang,” tegasnya.

Lebih lanjut, I Ketut juga menyarankan agar pemerintah segera merancang regulasi harga singkong berbasis analisis biaya produksi petani. Ia juga mendorong pengembangan hilirisasi produk singkong, seperti tepung tapioka, bioetanol, hingga makanan olahan, untuk menciptakan nilai tambah dan membuka peluang pasar baru bagi petani lokal.

“Selain penetapan harga dasar, perlu ada penguatan industri hilir agar ketergantungan petani terhadap tengkulak berkurang. Dengan begitu, petani bisa menjual hasil panennya dengan harga yang layak dan kompetitif,” jelasnya.

Anjloknya harga singkong berdampak signifikan terhadap perekonomian rumah tangga petani di Lampung, salah satu sentra penghasil komunitas penghasil singkong di Lampung secara nasional. Banyak petani mengaku terpaksa menjual singkong dengan harga yang sangat rendah, bahkan tak menutup biaya panen.

“Kami liat pabrik singkong masih buka tutup. Kami melihat miris sekali ketika banyak komoditi petani di Lampung saat ini harus terpaksa menjual singkonya di tengkulak ya. Sudah jualnya masih minim sekali harganya. Jadi saya kira pemerintah pusat serius menyikapi persoalan para petani kita di Lampung ini,” pungkasnya. (rid/gde)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *