Radarlamteng.com, BANDARLAMPUNG – Sejumlah pelatih taekwondo dan orang tua atlet menyayangkan digelarnya Musprov Taekwondo Indonesia (TI) Lampung pada Minggu (6/2/2022) di Novotel Bandarlampung.
Para pelatih dari sejumlah daerah di Lampung itu meyebut musprov seharusnya ditunda terlebih dahulu, karena diinilai masih banyak polemik yang belum terselesaikan.
Seperti halnya polemik di Pengkab TI Kabupaten Lampung Tengah, yang berdampak pada ditolaknya sejumlah atlet saat hendak mengikuti ujian kenaikan tingkat (UKT) Dan/Poom pada 8-9 Januari 2022 lalu.
Hal ini dikatakan Andi Antoni, salah satu orang tua atlet yang mendapat penolakan UKT saat itu. Andi menilai polemik yang dialami anaknya belum ditemukan solusi.
Padahal, upaya untuk mencari solusi permasalahan penolakan UKT telah dilakukan. Bahkan, sampai ke tingkat pusat.
“Kita sudah melaporkan ke Kemenpora dan PBTI masalah yang terjadi pada atlet Lampung Tengah yang ditolak UKT, termasuk masalah lain yang dialami oleh para pelatih. Saat di Kemenpora, pengaduan kita diterima Pak Edy Nurinda selaku Kapus Iptek Olaraga Deputi IV Kemenpora. Kemudian saat di PBTI laporan diterima oleh Kepala Bidang Prestasi Master Yefi Triaji. Tapi sampai saat ini belum ada tindakan nyata,” katanya.
Menurutnya, hal tersebut menjadi tandatanya olehnya. “Kalau seperti ini kita bertanya-tanya dong. Kenapa musprov tetap digelar. Sedangkan salah satu permintaan saya saat di Kemenpora dan PBTI agar menunda musprov sampai masalah ini selesai,” imbuhnya.
Tak hanya Andi Antoni, aliansi masyarakat yang tergabung dalam Satuan Aksi Rakyat Lampung (Sakral Lampung) juga menentang musprov tersebut. Sebagai bentuk protes, mereka melakukan aksi damai di depan Novotel saat musprov berlangsung.
Riswan, koordinator aksi menyatakan bahwa pihaknya menduga ada masalah kepengurusan Pengrov TI Lampung yang harus diperbaiki. Menurutnya, ia telah menerima laporan tentang permasalahan tersebut.
Diantara, melarang atlet untuk mengikuti UKT seperti terjadi di Lampung Tengah. Serta melarang pelatih membawa atlet mengikuti event di luar Provinsi Lampung seperti yang terjadi di Kota Metro. “Kalau seperti itu atlet dan pelatih yang dirugikan,” katanya.
Seorang pelatih asal Metro, berinisial A juga mengaku merasa dipersulit ketika akan membawa anak asuhnya mengikuti kejuaraan Sumsel Open, 14 sampai 16 Januari 2022.
Namun pelatih A tetap membawa atletnya sebanyak 14 orang. Ahasil, 10 atlet mendapat mendali emas, 2 atlet mendapat mendali perak dan 2 atlet lainnya mendapat perunggu.
Pun para atlet Lamteng juga ikut dalam kejuaraan itu, sebanyak 30 orang dan hampir seluruhnya mendapat medali.
Diberitakan sebelumnya, sejumlah orang tua atlet dan pelatih asal Lamteng dan Kota Metro sudah mengadu perihal tersebut ke Kemenpora dan PB TI di Jakarta pada Kamis (27/1/2022) lalu.
Dalam kesempatan itu, rombongan membeberkan permasalahan yang dialami para atlet taekwondo di Lampung Tengah dan para pelatih di sejumlah daerah di Provinsi Lampung. (rls/rid/gde)
