Truk Lapak Perparah Kerusakan Jalan Kabupaten di Seputihagung

Radarlamteng.com, SEPUTIHAGUNG – Jalan utama Kampung Donoarum – Fajarasri hingga Kampung Sulusuban Kecamatan Seputihagung, Lampung Tengah (Lamteng) kurang lebih sepanjang 7,5 kilo meter (Km) mengalami kerusakan cukup berat.

Kondisi ini diperparah dengan banyaknya kendaraan truk tronton bermuatan puluhan ton yang hilir mudik setiap hari di jalan milik Pemkab Lamteng tersebut.

“Sehari bisa puluhan mobil, Mas. Rata-rata truk fuso (tronton) bermuatan singkong dan ada juga yang muatan jagung dari lapak milik para pengusaha. Ada juga truk pasir,” kata Sutrisno (54) warga Sulusuban, Senin (1/2/2021).

Menurut dia, banyak lapak di wilayah Sulusuban yang memilih menggunakan truk tronton. “Karena bisa muat barang lebih banyak sekali jalan. Dan setiap akan membawa ke pabrik, truknya musti lewatnya jalan ini,” tambah dia sembari menunjukan jalan yang rusak.

Ardi (34) warga lainnya menuturkan, ulah para pengusaha lapak sudah keterlaluan. Padahal, kata dia, bisa saja para pengusaha menggunakan truk medium sebagai kendaraan angkut menuju pabrik.

“Ya kalau truk fuso (tronton) muatannya saja sudah di atas 20 ton. Belum lagi beban kendaraannya. Jadi wajar kalau jalannya cepat rusak. Apalagi ini hanya jalan kabupaten, yang batas beban kendaraanya maksimal hanya sekitar 5 ton,” jelasnya.

Masyarakat berharap Pemda Lamteng segera turun tangan. Seperti memasang portal untuk kendaraan besar serta memanggil pengusaha lapak untuk tidak menggunakan truk tronton.

“Kerugian besar ada di kami Mas sebagai masyarakat biasa. Setiap hari kita harus melewati jalan seperti kubangan. Padahal, pengusaha lapak menggunakan truk medium saja tetap untung, tapi memilih truk besar agar untungnya lebih banyak,” tukasnya.

Sementara, Eko Prayitno (46) warga Fajarasri mengatakan bahwa masyarakat sangat berharap pemda membuat regulasi yang tegas terkait masalah ini.

Seperti harus ada sinergitas antara keinginan untuk membangun jalan dan batasan dalam pemakaian jalan.

“Jangan sampai ada prasangka bahwa pemda tutup mata terkait masalah ini. Kalau seperti ini pemda dan masyarakat yang dirugikan. Sedangkan segelintir pengusaha yang tidak peduli malah dapat untung. Ini kan tidak adil,” pungkasnya. (rid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *