Cek Pasokan LPG di Pangkalan, Baroji Temukan Dugaan Permainan di Tingkat Agen

Radarlamteng.com, RUMBIA – Anggota DPRD Lampung Tengah dari dapil 2, Baroji menduga ada permainan di tingkat agen yang membuat gas LPG ukuran tabung 3 Kg menjadi langka di pangkalan sejak awal Ramadan lalu.

Menurut Baroji, hal ini terungkap saat dirinya mengecek di pangkalan LPG 3 Kg wilayah Rumbia dan Buminabung, Minggu (10/5/2020).

Saat mengecek di salah satu pangkalan LPG Rumbia, Baroji bertemu dengan petugas Pertamina Lampung, Muhajir. Di situ, kata Baroji, petugas Pertamina menyatakan bahwa suplai gas LPG 3 Kg selama bulan Ramadan ada penambahan kuota sebesar 4 persen.

“Kebetulan bertemua dengan pihak Pertamina. Namun mereka tidak bisa menjelaskan adanya kelangkaan LPG. Sedangkan kuota sudah ditambah. Untuk itu, mulai Senin (10/5/2020) dia akan melakukan penyisiran dan mengutamakan daerah yang terjadi kelangkaan,” kata Baroji menirukan Muhajir.

Sementara itu, kata Baroji, turunnya dia ke sejumlah pangkalan menindaklajuti keluhan masyarakat yang sulit mendapatkan gas LPG tabung melon. Terutama masyarakat di wilayah timur Lamteng. Yakni Rumbia, Buminabung, Seputihsurabaya dan kecamatan lainnya.

“Jikapun ada harganya sangat mahal. Jauh dari HET (harga eceran tertinggi) dan berlaku hampir di semua pangkalan. Bayangkan saja, HET tabung melon yakni Rp18 ribu, sedangkan masyarakat membeli bisa di harga Rp25 sampai 30 ribu,” kata anggota dewan Fraksi Demokrat tersebut.

Terkait hal ini, pihaknya akan menanti kebijakan Pertamina untuk mengutamakan daerah yang terjadi kelangkaan. “Kita tunggu saja. Seperti janji pihak Pertamina. Tapi kalau memang tidak ada perubahan (masih langka) kita akan ambil sikap,” bebernya.

Tindakan ambil sikap, jelasnya, melakukan sidak dengan mengajak Komisi II DPRD Lamteng untuk turun ke lapangan. “Keluhan ini harus segera ditindaklajuti. Kasihan masyarakat. Apalagi saat ini ekonomi masyarakat tengah merosot karena pandemi Corona, malah diberatkan dengan mahalnya harga gas LPG,” tegas Ketua Umum Ormas Almacida ini.

Terlebih, fenomena gas langka dan mahal tidak hanya terjadi saat ini saja. Menurutnya, hal ini terjadi setiap tahun, terutama saat bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri serta hari-hari besar keagamaan lainnya.

“Memang ketika Ramadan seperti ini konsumsi gas LPG masyarakat meningkat. Namun harus diimbangi dengan paskoan yang cukup. Jangan kelangkaan seperti ini terjadi setiap tahun. Setiap Ramadan, setiap Idul Fitri. Ini ada apa? Apakah ada permainan di tingkat agen, atau pangkalan untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari barang yang disubisidi pemerintah ini?,” cetusnya.

Dugaan adanya permainan di tingkat agen, imbuh Baroji, karena dirinya mendapatkan informasi bahwa ada agen memiliki titik pangkalan di wilayah timur, tapi tidak pernah melakukan suplai di wilayah sini.

“Memang boleh agen menjual barang di pangkalan lain selama masih di wilayah Lampung Tengah dan di bawah naungan agen itu sendiri. Tapi kondisi saat ini harusnya diutamakan di pangkalan yang diajukan. Nah ini tidak, akhirnya menyebabkan gas menjadi langka,” tegas Baroji. (rid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *