Tekan Kasus Gangguan Reproduksi Sapi, Disnakbun Gandeng BBPKH Cinagara Bogor Gelar Pelatihan ATR

Radarlamteng.com, SEPUTIHBANYAK – Dinas Peternakan dan Perkebunan (Disnakbun) Lampung Tengah (Lamteng) melaksanakan pelatihan asisten teknis reproduksi (ATR) di LEC Paramarta, Kecamatan Seputihbanyak. Pada pelatihan ini, Disnakbun Lamteng bekerjasama dengan Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara Bogor.

Pelatihan dibuka oleh Kadisnakbun Lamteng, Taruna Bifi Koprawi diwakili Sekretaris Drh. Nur Rohkmad. Dikuti peserta sebanyak 85 tenaga paramedik veteriner dari tiga kabupaten. Lampung Tengah, Lampung Timur dan Lampung Selatan.

Nur Rokhmad mengatakan bahwa di Lamteng, Lamtim dan Lamsel memiliki populasi ternak sapi cukup besar. Meski jumlah terbayak masih berada Lamteng, yakni 34 persen dari populasi Provinsi Lampung. Termasuk tenaga paramediknya, Lamteng memiliki 157 orang yang tercatat sebagai jumlah terbesar di Indonesia.

Karena alasan itu, Pemkab Lamteng sangat konsen dalam penanganan masalah gangguan reproduksi pada sapi. “Kita ketahui, masalah gangguan reproduksi sangat besar pengaruhnya terhadap penambahan populasi sapi yang berada di wilayah kita,” ujarnya.

Gangguan reproduksi yang dimaksud, yakni sapi memiliki angka kelahiran rendah dengan jarak kebuntingan cukup lama. Dengan pelatihan ini, para petugas diberikan materi ATR agar kompetensinya meningkat.

Di samping itu, karena sebagian besar petugas paramedik veteriner di Lamteng memiliki latar belakang pendidikan non peternakan, pelatihan ini akan memberikan grade berjenjang untuk mendapatkan legalitas praktek. Sebab, Peraturan Menteri Pertanian, pada akhir Desember 2019 petugas harus sudah tersertifikasi semua.

”Kita akui selama ini mereka (petugas) punya pengalaman yang bagus di lapangan. Karena bertahun-tahun melaksanakan aktivitas ini. Tetapi secara legal mereka belum ada surat izin pelayan paramedik. Sehingga untuk mendapatkan surat izin itu mereka harus memiliki sertifikasi dari lembaga yang berhak mengeluarkan sertifikasi. Salah satunya Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan Cinagara Bogor ini,” pungkasnya.

Sementara, Kasi Perbibitan dan Produksi Disnakbun Lamteng, Drh. Budi Prasetyo menjelaskan salah satu gangguan reproduksi yang umum pada sapi, adalah ketika sapi itu sudah di inseminasi buatan lebih dua kali atau tiga kali tapi tidak bunting-bunting. Atau calon indukan yang cukup lama untuk birahi.

”Itu contoh yang banyak sekali ditemukan di lapangan. Penyebabnya rata-rata sapi kekurangan asupan makanan, vitamin, gizi dan mineral. Yang paling umum ini terjadi di pada peternakan tradisional dengan bangsa sapi lokal,” jelasnya.

Oleh karena itu, petugas yang sering turun ke lapangan harus memberikan wawasan atau penyuluhan kepada peternak agar mereka lebih paham masalah yang terjadi pada sapi masyarakat. ”Di sini petugas dibekali berbagai materi yang menyangkut reproduksi sapi. Harapannya, ilmu yang didapat, akan disalurkan kepada masyarakat peternak. Sehingga populasi sapi di Lamteng akan terus meningkat dan dapat mengangkat kesejahteraan peternak di Lampung Tengah,” pungkasnya.

Adapun pelatihan ini berlangsung selama 14 hari. Dimulai Senin (21/10/2019) sampai tanggal 2 November 2019. Yakni tujuh hari teori dan praktik di LEC, dan tujuh hari di wilayah masing-masing dengan melaporkan hasilnya melalui sistem online.

Sementara, perwakilan BBPKH Cinagara yang hadir dipimpin Kabid Penyelenggara Pelatihan Kesehatan Hewan, Ir. Agus Triyono dan tiga stafnya. Mereka akan memberikan materi terkait ATR kepada peserta. (rid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *