Radarlamteng.com, BUMINABUNG – Serangan ulat bulu pada tanaman singkong membuat petani resah. Seperti halnya, para petani di Kecamatan Buminabung, Lampung Tengah (Lamteng).
Menurut para petani, ulat bulu yang menyerang daun singkong memang tidak berpengaruh terhadap buahnya. “Yang dimakan hanya daun saja . Memang tidak sampai habis, tapi daunnya rusak,” ujar Sugimin (43) petani di wilayah setempat, Senin (22/4/2019).
Yang membuat petani resah, kata dia, dalam melakukan perawatan singkong. Misalnya, saat pemupukan atau penyemprotan pestisida untuk membasmi rumput pengganggu tanaman.
“Saat itulah petani ikut diserang ulatnya. Jika sudah tekena bulunya, akan menyebabkan gatal hingga dua hari lebih. Bahkan menyebabkan kulit bentol jika tidak cepat diobati,” kata Jamari (65) petani lainnya.
Tidak hanya dalam perawatan, saat pemanenan pun demikian. Lantaran banyak ulatnya, mencari tenaga panen jadi susah. Jikapun ada, biasanya minta penambahan ongkos panen.
“Kalau ulatnya banyak kuli panen minta tambahan ongkos. Jika satu ton biasanya Rp70 ribu, bisa naik menjadi Rp80 hingga Rp90 ribu. Upah panen yang tinggi kan juga merugikan petani,” imbuhnya.
Petani mengaku serangan ulat bulu pada singkong sudah terjadi sejak dua bulan lalu. Kini serangan semakin menjadi dan saat sampai sekarang belum ada tindakan dari dinas terkait.
Petanipun tidak mengetahui cara membasmi ulat-ulat yang jumlahnya mencapai ribuan ekor dalam satu hektar tanaman tersebut. (rid)
