 |
|
| RADAR LAMTENG |
|
| | 
|
|
 |
|
 |
 |
|
Berita Berita Utama |
|
| Rabu, 10 Maret 2010 07:36:37 |
Klik : 45 |
 |
 |
|
| | Balita Hydrocephalus Asal Fajarmataram Perlu Bantuan |
|
SEPUTIHMATARAM - Fistara Oktavianika (8,5) menderita hydrocephalus sejak umur 3 bulan. Anak pertama dari pasangan Meno (32) dan Muriah (33) warga Dusun 3 Kampung Fajarmataram, Kecamatan Seputihmataram, Lamteng ini kini hanya mampu pasrah, soalnya mereka tidak memiliki dana untuk biaya pengobatan.
Meski pemerintah telah menggratiskan pengobatannya melalui Jamkesmas di Rumah Sakit Umum Daerah dr Hi. Abdul Moeloek (RSUDAM) Bandarlampung ketika berumur 9 bulan, dan sempat mendapat bantuan uang setiap bulan Rp300 ribu selama setahun pada tahun 2009 dari Dinas Kesehatan Lamteng, namun keluarga ini tidak memiliki biaya untuk pengobatan lebih lanjut.
Mengingat, pekerjaan orang tuanya hanya seorang buruh serebutan. Begitu juga istrinya Muriah, hanya bekerja sebagai penjahit di rumah sambil menunggu putrinya tersebut.
Meno (32), bapak kandung penderita menceritakan, saat ini kondisi anaknya hanya bisa berbaring di tempat tidur. Kalau pertumbuhannya normal seperti anak pada umumnya, begitu juga makan minum. Bahkan, dia bisa berkomunikasi walaupun kurang jelas, kata Meno dan Muriah ketika menemani putrinya.
Lalu, penyakit itu muncul sejak Fistara berumur 3 bulan. Awalnya kepala Fistara membesar dan tubuhnya mengalami penyusutan.
Sebelum pengidap penyakit itu, istri saya melahirkan putri tunggal kami ini secara prematur di Rumah Sakit Ahmad Yani Kota Metro pada 15 Oktober 2001 lalu dengan berat 1,3 kg. Kemudian, beranjak umur tiga bulan, kepala anak saya mulai membesar hingga sekarang ini, bebernya.
Kemudian, selama ini Fistara baru sekali berobat di RSUDAM Bandarlampung pada tahun 2002, saat berumur sembilan bulan dengan menggunakan Jamkesmas.
Ketika dirawat di rumah sakit, tidak bisa operasi karena saat itu Fistara sedang menderita batuk dan pilek, sehingga operasinya ditunda. Beberapa minggu kemudian, saat berniat mau operasi, namun terkendala lagi muncul penyakit yang sama seperti batu dan pilek, sehingga akhirnya sampai sekarang belum dioperasi, ucapnya.
Meno menambahkan, dia hanya bisa pasrah melihat kondisi putrinya, karena kondisi finansial tidak memungkinkan baginya membawa Fistara berobat.
Kini kami hanya bisa mengharapkan bantuan sosial untuk meringankan beban hidup. Setidaknya untuk membelikan kursi roda buat Fistara agar bisa keliling dan main di lingkungan rumah seperti anak pada umumnya. Karena, istri saya tidak kuat lagi mengendong anak saya ini yang beratnya sekitar 25 kilogram, tandasnya. (rin/gde) |
|
| << Kembali |
Berita Berita Utama Lainnya : |
. Motor Korban Rampok Emas Ditemukan . Jadikan Ramadan Penyemangat Kerja . Sopir Ngantuk, Panther Tabrak Pohon . Disdik Hanya Lihat Fotokopi Ijasah . Membandel, Kepala Puskesmas Terancam Digeser . PKS Dukung Musa-Suwidyo . Lagi, Kawanan Rampok Ditangkap . Perampok di Adijaya Didor . Letto Gebrak Lamteng . Toko Emas Indah Masih Tutup
|
|
|
 |
 |
|  |