Harga Singkong Murah, Serapan Pupuk Subsidi di Lamteng Rendah

Radarlamteng.com, PUTRARUMBIA – PT Pupuk Indonesia (Persero) mencatat serapan pupuk subsidi untuk wilayah Lampung Tengah (Lamteng) masih di angka 57 persen. Ini lebih rendah dari angka nasional yang mencapai 65 persen.

Rendahnya serapan ini terungkap saat PT Pupuk Indonesia melakukan sosialisasi di Kampung Binakarya Sakti, Kecamatan Putrarumbia, Lampung Tengah, Kamis (23/10).

Senior Manager Regional 1 B Sumbagsel PT Pupuk Indonesia, Ikdul Jumai
menjelaskan bahwa ketersediaan kuota pupuk saat ini sangat melimpah, karena serapannya cenderung rendah.

Sebagai gambaran di tingkat nasional, pada tahun 2025 pemerintah telah mengalokasikan sebanyak 9,5 juta ton.

Sampai saat ini baru terserap 6,2 juta ton, atau 65 persen. Sedangkan di Provinsi Lampung, untuk kuota semua jenis pupuk tahun 2025 sebanyak 786 ribu ton.

Sampai saat ini baru ditebus sekitar 480 ribu ton atau 62 persen. Sedangkan untuk Kabupaten Lampung Tengah mendapat kuota 192 ribu ton, yang terserap sampai saat ini baru 112 ribu ton atau 57 persen. Idelanya, kata dia, sudah terserap sampai 80 persen.

“Ini masih rendah. Jadi saya harapkan petani yang telah terdaftar dalam RDKK silahkan melakukan penebusan sesuai aloaksi yang disediakan pemerintah,” katanya.

Sedangkan harga HET per Kg untuk pupuk urea sebelumnya Rp2.250 saat ini turun menjadi Rp1.800. Kemudian untuk jenis NPK, sebelumnya Rp2.300 per Kg turun menjadi Rp1.840 per Kg.

Menurutnya, petani bisa mendapatkan harga sesuai HET dengan 3 syarat. Pertama terdaftar di RDKK, lalu melakukan pembelian sendiri di kios resmi dan membayar dengan cara cash.

Sementara itu, Sunaryo, ketua kelompok tani di Kampung Binakarya Sakti mengatakan bahwa penjualan pupuk subsidi cenderung melambat sejak awal bulan 5 lalu.

Selain telah memasuki musim kemarau, petani juga sudah mulai beralih ke pupuk kompos atau kandang.

“Petani mencari pupuk yang harganya lebih murah, karena harga singkong murah, Mas,” kata dia.

Menurut perhitungan petani, jika menggunakan pupuk kimia bersubsidi menambah kost produksi. Sedangkan hasil panennya tidak sesuai.

“Di sini petani rata-rata tanam singkong. Harganya murah. Jadi kalau pupuknya pakai kimia harus beli mahal tidak sesuai dengan hasil panennya,” paparnya. (rid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *