Kehabisan Material, Lantai Drainase Gotongroyong-Metro Tanpa Alas Batu

Radarlamteng.com, TRIMURJO – Berdalih habis material, kepala tukang proyek pembangunan Drainase jalur Gotongroyong menuju Kota Metro tepatnya di Kampung Pujodadi, Kecamatan Trimurjo, Lampung Tengah (Lamteng), Triono mengakui lantai drainase yang ia kerjakan tanpa alas batu.

Hal itu diungkapkan Triono saat dikonfirmasi media radarlamteng.com melalui sambungan telepon WhatsAppnya, Kamis (11/11/2022).

“Itu kan kemarin kebetulan batunya habis Pak. Jadi tanpa sepengetahuan saya tukang itu mlester lantai, tapi sudah tak rehab dan sudah dikasih batu,” kata Triono.

Triono juga mengakui adanya miss komunikasi antara dirinya dan tukang harian. Karena menurut dia harga material batu sempat bergejolak sehingga persediaan batu jadi terhambat.

“Ya, kemarin juga batu di Lampung Timur sempat bergejolak, dan karena tukang nya bingung mau kerja tidak ada material jadi mereka mengerjakan lantai itu tanpa koordinasi dengan saya,” ucapnya.

Saat ditanya terkait sumber dana dalam proyek yang sedang dikerjakan, Triono pun tidak mengetehaui secara pasti dari mana sumber dana tersebut.

Bahkan, ia juga mengaku hanya sebatas kepala tukang dan tidak mengetahui secara gamblang proyek yang diduga merupakan proyek pemerintah daerah setempat itu.

“Kalau masalah anggaran saya tidak tahu, yang jelas anggaran itu dari Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah, entah APBD ataukah DAK. Tugas saya hanya mencari pekerja saja, mulai dari pengukuran, ijin ke pamong serta pelaksanaan itu urusan nya pak Marsanto,” ungkapnya.

Namun, pernyataan Triono yang mengaku bahwa lantai drainase yang telah di alaskan batu ternyata tidak sesuai dengan fakta yang ada. Dimana, lantai tetap dikerjakan tanpa batu dan kurangnya material semen sehingga adukannya terlihat putih karena banyaknya pasir.

Padahal, jelas dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan gambar sketsa pembangunan baik dinding maupun lantai menggunakan batu sebelum di plester.

Selain itu juga, pada pelaksanaannya pun tidak terdapat Papan Informasi Publik (PIB) yang terpasang sebagaimana mestinya. Sebab, banyak warga yang bertanya-tanya dan menduga bahwa proyek siluman tersebut menjadi bancakan para kontraktor yang tidak transparan dalam pelaksanaan. (cw29/rid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *