Radarlamteng.com, GUNUNGSUGIH – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali merebak di sejumlah daerah di pulau Jawa.
Di Kabupaten Lampung Tengah, PMK sempat mewabah pada tahun 2022 lalu.
Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Perkebunan, Peternakan dan Perikanan (Disbunakkan) Lampung Tengah mengajak masyarakat peternak untuk lebih teliti dalam mengenali tanda penyakit yang disebabkan virus RNA (ribonucleic acid) tersebut.
Meski sejauh ini belum ditemukan kasus ternak yang dilaporkan, kewaspadaan sejak dini penting dilakukan sebagai upaya antisipasi.
Ini dikatakan Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Ishaq Supli, SP. MM., mewakili Plt. Kadisbunakkan Surahman, SP. MM., Sabtu 4 Januari 2024.
Dia menjelaskan, sesuai dengan leaflet Kementerian Pertanian, PMK ditularkan hewan melalui tiga cara. Pertama kontak langsung antara hewan yang tertular dengan hewan rentan.
Kedua kontak tidak langsung dengan virus pada manusia, alat dan sarana transportasi akibat kontaminasi dari peternakan yang mengalami wabah PMK.
Ketiga, penyebaran melalui udara. Terutamanya babi, yang dapat menyebarkan virus dalam jumlah yang sangat banyak ke udara melalui aktivitas bernapas.
“Penyebaran PMK oleh angin bisa terjadi sampai radius 10 KM,” jelasnya.
Untuk pencegahan penularan dapat dilakukan dengan karantina dan pembatasan wilayah daerah wabah dan membatasi lalu lintas hewan rentan PMK serta produknya, dari atau ke daerah wabah.
Lalu amati gejala pada hewan yang terindikasi sakit ke kandang isolasi.
“Laporkan segera ke petugas kesehatan hewan setempat jika melihat gejala klinis pada hewan di sekitar kita,” terangnya.
Ia juga menjelaskan tanda klinis jika ternak terjangkit PMK. Baik ternak sapi, kambing, domba, kerbau dan babi.
Yakni lepuh berisi cairan atau luka yang terdapat pada lidah, gusi, hidung dan teracak atau kuku. Lalu hewan tidak mampu berjalan atau pincang.
“Tanda klinis lain yang muncul yakni produksi air liur berlebihan dan hilangnya nafsu makan,” jelas Ishaq.
Jika hewan sudah terjangkit, kata dia, lakukan sejumlah tindakan. Pertama pisahkan ternak yang sakit, lapor ke petugas kesehatan.
Kemudian lakukan pembersihan dan disinfeksi terhadap kandang dan peralatan, batasi pergerakan hewan orang dan peralatan dari dan ke peternakan tertular seperti pasar hewan.
“Selanjutnya tetap berikan pakan berkualitas dan tambahan vitamin,” pungkasnya.
Dia berharap masyarakat bisa mengikuti implementasi dasar mengenali, menghentikan penyebaran dan tindakan yang harus dilakukan jika terdapat hewan sakit. “Ini penting dilakukan guna mengantisipasi PMK,” jelasnya.
Sebab jika PMK melanda, akan ada banyak kerugian yang dialami. Karena ternak bisa mengalami penurunan produksi susu, kematian mendadak, keguguran, infertilitas dan penurunan berat badan.
Ia menegaskan PMK tidak menular atau membahayakan manusia.
“Bahkan produk daging dan susu tetap aman dikonsumsi selama dimasak dengan benar,” pungkasnya. (rid)
